Mengenang Yaya Moektio, Drummer Berkarakter yang Ngebentuk Warna Musik Rock Indonesia

Profil Drummer God Bless. Berkarakter yang Ngebentuk Warna Musik Rock Indonesia
Profil Drummer God Bless. Berkarakter yang Ngebentuk Warna Musik Rock Indonesia

GENZIRO.ID, Inspirasi Muda – Genzers, kalau kalian suka dengerin musik rock legendaris Indonesia, nama Yaya Moektio pasti pernah nyelip di obrolan para senior.

Sosok drummer yang satu ini bukan cuma musisi biasa, ia adalah warna, karakter, dan energi yang membentuk perjalanan panjang musik rock Indonesia.

Yaya Moektio, atau dengan nama lengkap Yahya Karya Konsepsianto, lahir di Manado pada 30 Agustus 1957.

Genzers, bayangin aja, sejak era 70-an, hidup Yaya sudah benar-benar dikuasai dentuman drum.

Dari panggung kecil hingga konser besar, ritmenya nggak pernah berhenti.

Baca Juga :  Keren Abis! Kunti Zahra Sabet Juara 1 Cerpen Festival Literasi Keagamaan 2025

Masuk ke era kematangan musikalnya, Yaya bergabung dengan berbagai band besar.

Dari Silver Train, Prambors Band, Batara Band, hingga Cockpit dan Gong 2000. Genzers, tiap band ini punya style beda-beda, dan semuanya berhasil dia taklukkan.

Pada tahun 1982, kemampuan eksplorasi Yaya makin keliatan. Ia diminta menggantikan drummer Gold Guys buat bawain repertoar jazz-rock ala Bill Bruford.

Dan kalian pasti bisa tebak, Yaya sukses besar. Tiga tahun kemudian, Indra Lesmana turut mengajaknya tampil di TIM, memperlihatkan bahwa genre apa pun bisa ia libas.

Baca Juga :  Yaya Moektio Tutup Usia Drummer Legendaris God Bless yang Musiknya Idolakan Banyak Generasi

Nggak cuma di rock, Genzers. Yaya juga sempat masuk ke dunia musik pop dengan Harry Sabar, ikut mengiringi penyanyi-penyanyi dari DD Record seperti Helly Gaos dan Herlin Widhasmara.

Bahkan ia juga mengisi album Endar Pradesa pada akhir 70-an. Fleksibel banget kan?

Perjalanan bandnya juga luar biasa panjang.

Dari era Silver Train (1977), lanjut Prambors Band (1978), sampai Batara Band yang kemudian berkembang jadi Cockpit, kehadiran Yaya selalu bikin musik jadi lebih solid.

Tahun 2000, ia kembali tampil bareng para legend. Ian Antono, Donny Fattah, dan Akhmad Albar lewat Gong 2000.

Baca Juga :  Keren Abis! Kunti Zahra Sabet Juara 1 Cerpen Festival Literasi Keagamaan 2025

Genzers, bayangin energi panggungnya waktu itu! Lalu pada 2009, ia juga sempat ambil bagian dalam album God Bless “36th” sebelum posisinya digantikan Fajar Satritama di 2012.

Perjalanan Yaya Moektio adalah bukti bahwa musik bukan sekadar profesi—tapi napas. Dari era ke era, jejaknya membentuk generasi.

Meskipun kini ia telah pergi, ritme dan spiritnya tetap hidup, jadi inspirasi buat musisi muda yang ingin meledak di panggung musik Indonesia.